BANYUMAS – Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja menjadi sorotan dan menuai apresiasi luar biasa dari para pejabat Kementerian Agama dan tokoh Nahdlatul Ulama, saat menjadi lokasi Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Pojok Baca Nahdiyin (PBN) Kabupaten Banyumas Masa Bakti 2026–2031, Selasa (10/02/2026).
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Dr. H. Saiful Mujab, M.A., secara terbuka menyampaikan kesan mendalam atas kunjungan pertamanya ke PP Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja. Menurutnya, pesantren ini menghadirkan wajah baru pendidikan Islam yang bukan hanya mendidik secara keilmuan, tetapi juga membangun kemandirian umat melalui kewirausahaan.

“Luar biasa. Ini pesantren yang memberi inspirasi. Bukan sekadar ngaji, tapi santrinya dilatih usaha, wirausaha, dan sudah ada karya nyatanya. Ini pengalaman penting yang layak disebarluaskan ke seluruh Jawa Tengah, ” tegas Saiful Mujab kepada awak media.

Apresiasi senada disampaikan Dr. H. Imam Tobroni, M.M., Ketua PW Pojok Baca Nahdiyin Jawa Tengah. Ia menyebut Banyumas sebagai ikon dan role model gerakan literasi PBN Jawa Tengah, sekaligus menilai Sokaraja sebagai kota yang sarat nilai budaya dan historis literasi.
“Banyumas ini responnya paling luar biasa setelah pengukuhan PBN Jawa Tengah. Tidak salah memilih Sokaraja. Ini kota budaya, kota literasi. PP Nahdlatul Ulama Abdul Djamil Tebuireng 17 adalah contoh pesantren entrepreneur—melahirkan santri yang jadi bos, bukan sekadar pencari kerja, ” ungkapnya.
Ia optimistis, dari Banyumas gerakan literasi PBN akan menyebar masif hingga desa, masjid, madrasah, dan pondok pesantren, sekaligus menguatkan literasi keagamaan moderat dan ekoteologi sebagaimana visi Kementerian Agama.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Cilacap, H. Aziz Muslim, menekankan bahwa PBN menjadi jawaban atas tantangan menurunnya budaya membaca di era digital.
Ia menyebut sinergi pojok baca di pesantren, madrasah, dan rumah ibadah sebagai langkah konkret membangun peradaban literasi.
Dari Banyumas sendiri, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Banyumas, Dr. H. Ibnu Asaddudin, menegaskan dukungan penuh Kemenag terhadap PBN sebagai bagian dari program berdampak. Menurutnya, literasi adalah kunci memperluas pemahaman agama agar tetap ramah, mudah, dan membumi.
“Agama itu luas dan mudah. Tapi tanpa literasi, masa depan bisa dipersempit. PBN Banyumas harus menginspirasi Indonesia, ” tegasnya.
Ketua PBN Kabupaten Banyumas terpilih, Dr. H. M. Wahyu Fauzi Aziz, S.H., M.Si., menyatakan bahwa pengukuhan di PP Nahdlatul Ulama Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja bukan tanpa alasan. Pesantren ini dinilainya sebagai embrio nyata gerakan literasi dan kewirausahaan santri.
“Dari sini kita ingin menularkan semangat ke pondok, madrasah, dan sekolah di seluruh Banyumas. PBN tidak berhenti di struktur, tapi bergerak dan membumi, ” ujarnya.
Dukungan kuat juga datang dari jajaran NU. Ketua Tanfidziyah PCNU Banyumas, KH. Imam Hidayat, M.Pd.I., menyebut kegiatan ini sebagai bentuk sinergi konkret antara ulama dan pemerintah dalam mewarisi tradisi literasi para ulama salaf, sekaligus membentengi umat di tengah tantangan zaman modern.
Dari internal pesantren, Pengurus PP Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja, KH. Irchami, menegaskan bahwa pesantren sejatinya adalah rumah membaca dan menulis. Menurutnya, pojok baca bukan sekadar fasilitas, tetapi jalan membangun kecintaan santri terhadap ilmu hingga mampu melahirkan karya nyata.
Hal senada disampaikan KH. Muhammad Husain, Sohibul Ma’had sekaligus Kepala SMP Persada Insan Nusantara (SMP Perantara Tebuireng 17). Ia menekankan pentingnya literasi faktual yang menghasilkan karya, bukan hanya teori.
Menutup rangkaian pernyataan, Ketua Yayasan PPNU Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja, H. Imam Purwanto, menyampaikan bahwa pesantren membuka diri seluas-luasnya bagi masyarakat umum.
Ia menegaskan komitmen yayasan untuk memberi bukti, bukan sekadar janji, dalam membangun pesantren berbasis literasi, kewirausahaan, dan teknologi.
“Santri harus mandiri. Mengaji iya, berwirausaha iya, berkarya iya. Dari Sokaraja, kita buktikan pesantren bisa menjadi pusat literasi dan peradaban, ” pungkasnya.
(Djarmanto-YF2DOI)

Updates.