BANYUMAS - Di penghujung bulan suci Ramadhan dan datangnya Idul Fitri, suasana batin manusia seakan terbelah antara haru dan bahagia.
Sebagian meneteskan air mata karena berpisah dengan bulan penuh ampunan, sementara yang lain menyambutnya dengan suka cita sebagai hari kemenangan.

Fenomena ini, menurut tokoh agama, KH. Zainurrahman Rohili Al-Hafidz Pengasuh Pondok Pesantren Bani Rasul di Gubug Sekuping, Bantarsoka, Purwokerto, Barat Banyumas, saat awak media bersilaturrahmi lebaran 1 Syawal 1447H, Sabtu (21/03/2026).
"Itu tidak hanya dirasakan manusia, namun juga menjadi bagian dari dinamika makhluk Allah SWT lainnya, termasuk jin dan setan yang selama Ramadhan berada dalam keterbelengguan." Ungkapnya.
Ditempat lain, dalam suasana hangat silaturahmi lebaran di kediamannya di Pasir Lor, Karanglewas, Banyumas, Ahad (22/03/2026), KH. M. Ali Sodikin, yang akrab disapa Mbah Sod, menyampaikan renungan yang menyejukkan jiwa.
“Ramadhan mengajarkan manusia untuk tunduk dan patuh dalam disiplin yang luar biasa. Sahur dijalankan tepat waktu, berhenti saat imsak, dan menahan diri hingga adzan Maghrib berkumandang. Padahal makanan itu miliknya sendiri, namun tidak disentuh sebelum waktunya. Inilah bukti bahwa manusia sejatinya mampu mengendalikan dirinya, ” tuturnya lembut.
Ia melanjutkan, keindahan Ramadhan terletak pada keteraturan yang lahir dari iman. Doa mengalun saat sahur, niat terucap dengan kesadaran, dan berbuka dilaksanakan dengan penuh ketertiban. Semua itu bukan karena diawasi manusia, melainkan karena keyakinan bahwa Allah SWT Maha Melihat.
Menguatkan pesannya, ia merujuk pada Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 183), bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan.
“Ketakwaan itu tampak dari kemampuan menahan diri, bahkan terhadap yang halal, terlebih lagi dari yang bukan haknya, ” jelasnya dengan penuh makna.
Lebih jauh, ia menggambarkan suasana 1 Syawal sebagai momentum kembalinya fitrah kemanusiaan.
“Pada hari itu, tidak ada gengsi untuk meminta maaf, tidak ada sekat untuk memaafkan. Hati menjadi lembut, tangan ringan untuk memberi, baik kepada yang tua, muda, hingga anak-anak. Inilah potret jiwa yang kembali bersih, ” ungkapnya penuh haru.
“Apakah keindahan ini hanya berhenti di hari raya ? Ataukah mampu kita lanjutkan dalam keseharian ? Jika disiplin Ramadhan terus dijaga dan budaya saling memaafkan terus dibiasakan, maka kedamaian akan menyelimuti jiwa dan kehidupan, ” katanya reflektif.
“Saat berpuasa, hanya diri sendiri dan Allah SWT yang mengetahui, namun kita tetap taat. Jika nilai ini diterapkan dalam kehidupan, tidak akan ada yang berani mengambil hak orang lain. Bahkan milik sendiri saja kita atur, apalagi milik orang lain, ” ujarnya tegas namun menenangkan.
Ia menambahkan, nilai-nilai Ramadhan sejatinya adalah bekal sepanjang hayat. Dalam ajaran Nabi Muhammad SAW, amal yang paling dicintai Allah SWT adalah yang dilakukan secara terus-menerus meski sedikit.
“Di situlah letak kekuatan istiqamah, lebih bernilai daripada semangat yang hanya sesaat, ” imbuhnya.
Imbuh pesan utamanya, Mbah Sod menegaskan bahwa Syawal hendaknya menjadi titik awal, bukan akhir.
“Mari jaga ruh Ramadhan dalam setiap langkah. Jadikan disiplin sebagai kebiasaan, maaf sebagai budaya, dan derma sebagai karakter. Jika itu terjaga, maka hidup akan dipenuhi berkah dan kedamaian, ” Imbuhnya
Sebagai penegas pesan lintas kehidupan, ia merangkum seruan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
“Bagi para pengusaha, jadikan disiplin Ramadhan sebagai etika usaha, jujur dalam timbangan dan amanah dalam transaksi. Bagi para pejabat, peliharalah rasa diawasi Allah SWT sebagaimana saat berpuasa. Bagi rakyat, rawatlah kesabaran dan rasa syukur. Bagi para aktivis dan anggota organisasi, jadikan Ramadhan sebagai ruh perjuangan, ikhlas, peduli, dan lapang dalam memaafkan, ” tuturnya penuh makna.
“Bagi para pejuang kehidupan, yang setiap hari berikhtiar dalam keterbatasan, jangan lelah menjaga kejujuran dan kesabaran. Karena kemuliaan itu sering tak terlihat manusia, namun sangat bernilai di sisi Allah SWT. Dan bagi para pengemban amanah negara, ingatlah bahwa jabatan adalah titipan. Jalankan dengan integritas, keadilan, dan tanggung jawab sesuai kapasitas. Jika amanah dijaga, keadilan akan tumbuh dan kesejahteraan akan mendekat.”
Tak berhenti di sana, ia juga merajut harapan untuk lingkup keluarga dan sosial.
“Kepada setiap keluarga, suami, istri, anak, menantu, cucu, hingga besan, jadikan Ramadhan sebagai madrasah sepanjang hayat. Bangun rumah tangga dengan kasih sayang, saling memaafkan tanpa menunggu waktu, dan saling mendoakan tanpa diminta. Kepada sahabat, tetangga, dan saudara, rawatlah silaturahmi seperti hangatnya Idul Fitri, hilangkan prasangka, perbanyak senyum, dan hadirkan kepedulian dalam keseharian, ” pesannya lembut.
“Jika dalam keluarga tumbuh cinta dan dalam masyarakat terjalin kepedulian, maka keberkahan tidak hanya hadir di bulan Ramadhan, tetapi akan menetap dalam setiap detik kehidupan. Dari keluarga yang teduh akan lahir masyarakat yang kuat, dan dari masyarakat yang kuat akan terbangun peradaban yang penuh rahmat, " pungkasnya.
(Djarmanto-YF2DOI)
|
Baca juga:
Zulfa Mustofa Ditetapkan Jadi Pj Ketum PBNU
|

Updates.